Hari itu segalanya berubah
seketika, seperti tersambar petir meski langit berhiaskan bintang dan
bulan. Tak ayal diriku berharap ini hanya sebuah mimpi buruk yang
kulalui, namun ucapan di bibir lugumu membangunkanku bahwa ini bukanlah
mimpi. Mimpi atau semacam fatamorgana, namun ini semua nyata. Adanya
pertemuan terbalut perpisahan.
Lampu merah itu berubah menjadi hijau
Rasanya seperti baru kemarin, lampu merah itu berubah menjadi hijau.
Hati yang sudah cukup berlumut dengan senang membuka pintu, tanpa
berpikir ribuan jarum pernah menusuknya. Dimana diri ini merasakan
kehangatan kembali, letupan demi letupan yang selalu bergejolak
menggetarkan hati. Dirimu hadir bagai malaikat, membalut luka lama yang
tak kunjung pulih karena dia.
Dialah penjahat yang bertopeng korban
Dia, apa kabar dirimu kini? Cukup berbahagiakah kau dengannya? Masihkah
hari ini kau ingat padaku? Sepertinya tidak, fase yang dilewati telah
terhapus begitu saja oleh janji manismu sendiri setelah kamu menikmati
semuanya. Bukan karena diriku tak bisa mempertahankanmu, namun dirimu
telah tergoda yang lainnya. Diri ini berpikir, benarkah kali ini kita
memang hidup di zaman terbalik? Dimana korban terlihat menjadi penjahat,
dan penjahat sebenarnya terlihat menjadi korban.
Kutemukan sosok baru dalam dirinya
Diri ini menemukan sosok baru dan rasa percaya diriku mencapai level
tertinggi kembali, dimana diriku dapat berdiri tegap tanpa melihat ke
belakang. Kugantikan dirimu dengan sosok yang amat sempurna di mataku.
Sosok dari masa depan, yang membangunkanku dari keterpurukan setelah
kulewati ratusan purnama yang ada.
Kejujuran masa laluku, membuat logika cintamu runtuh
Cukup singkat dengan apa yang dilewati oleh kami berdua, baru saja aku
merasakan bunga bersemi yang masih ku semai sisa benihnya. Dan kejujuran
masa laluku terhadapmu, membuat logika cintamu runtuh seketika. Prinsip
yang kamu genggam, mematahkan segalanya. Ucapan yang keluar dari bibir
lugumu itu, mengingatkanku kembali akan pedihnya ribuan jarum menusuk
hati. Perpisahan.
Berjalan kembali sendiri, hingga lampu hijau menyala
Aku harus segera menyibukkan diriku kembali, melanjutkan perjalanan
hijrahku, melawan kerinduanku padamu dan merasakan pedih oleh tusukan
jarum terhadap setiap detik yang ku miliki. Bukanku menyerah, namun ku
coba bijaksana dengan keyakinan skenario yang dibuat olehNya. Setiap
orang alim pasti punya masa lalu, dan pendosa sepertiku pun memiliki
masa depan.
Masa laluku, Berdamailah
Terima kasih kau telah hadir dalam hidupku, mungkin kau akan lebih
berdebu karena aku akan sangat jarang mengunjungimu. Meski singkat namun
kamu tetap menjadi bagian perjalanan hijrahku, menjadikanku lebih
dewasa dengan kesibukkan masa kini dan impian masa depan sebagai
pemantap langkahku selanjutnya. Semoga.
popbela.com
